| HOME | PROFILE | VISI DAN MISI | ANGGOTA | KEGIATAN | GALERI | PERALATAN | DOWNLOAD | DONASI | KEDAI | BUKU TAMU |

 

 

 

ARTIKEL

KESAKSIAN MUSTAHIL RUKYAT SAUDI

Oleh : Mutoha Arkanuddin

Diposting oleh : admin

Pada 13 November 2010

 

 

Keputusan Saudi menerima 'klaim rukyat' dalam kondisi hilal 'not possible sighting' karena ketinggiannya baru 0,7° di atas ufuk memang sudah bisa diprediksi sebelumnya dan itu bukan kali pertama Saudi bertindak 'tidak ilmiah' seperti ini (baca : http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1431/zulhijjah/index.html ) Kontroversi tehadapa keputusan Saudi yang kerap kali menerima kesaksian hilal saat 'not possible sighting' seperti kali ini memang sudah lama menjadi bahan diskusi para pakar falak dunia di forum Islamic Crescent Observation Project (ICOP) yang berpusat di Jordania dan Forum Moonsighting Committee Worldwide (MCW) yang berpusat di USA.  Sementara di Indonesia yang mayoritas penduduknya  muslim dan banyak memiliki pakar falak ini justru kasus ini tidak begitu populer. 

Pada prinsipnya para pakar tersebut menyayangkan sikap otoritas Saudi yang hanya mendasarkan pada pengakuan seseorang tanpa pernah dilakukan klarifikasi dan uji materi tentang kebenaran laporan tersebut. Bahkan mereka juga sempat membuat Petisi yang disampaikan langsung kepada pihak kerajaan mengenai kejanggalan tersebut.  Lucunya lagi tim resmi yang telah dibentuk oleh kerajaan di beberapa lokasi dan dilengkapi teleskop canggih yang mampu melakukan tracking secara akurat terhadap posisi Bulan dan perlengkapan pencitraan hilal menggunakan CCD itu justru tidak pernah dipercaya laporannya. Menurut data yang dikumpulkan oleh lembaga tersebut, setidaknya selama 30 tahun terakhir, khusus untuk Zulhijjah saja dari 30 kali laporan rukyat ternyata sekitar 75% nya atau 23 laporan rukyat dinyatakan mustahil secara ilmiah dan 7 laporan rukyat diterima.

Penentuan awal bulan dalam kaitannya dengan ibadah seperti Ramadhan, Syawwal dan Hijriyah di Saudi memang menggunakan rukyat sbg dasarnya, sementara hisab hanya digunakan untuk pembuatan kalender sipil untuk kepentingan kenegaraan dan kemasyarakatan yang disebutr sebagai Kalender Ummul Qura. Namun itulah yang berlaku di sana 'hilal syar'i' bukan 'hilal falaki'. Entah sampai kapan Saudi akan bertahan dg tradisi ini. Di zaman hitungan yg super akurat sekarang ini hisab justru menjadi sesuatu yang qath'i karena sudah terbukti akurasinya, sementara hasil rukyat lebih bersifat zhanniy karena sangat berpeluang terjadinya 'salah identifikasi terhadap obyek yg disebut sebagai hilal saat rukyat. 

 

Posisi hilal di Makkah justru lebih rendah dari ketinggian rata2 di wil Ind.onesia.

Hisab modern seharusnya bisa menjadi kontrol terhadap laporan rukyat seseorang. Sudah menjadi sunatullah saat hilal sangat rendah dibawah 'ambang penglihatan' maka ia mustahil disaksikan bahkan dengan bantuan peralatan optik sekalipun shg ketika ada orang menyatakan sanggup melihat apalagi hanya dengan mata telanjang maka seharusnya kesaksian tsb gugur kecuali ia dapat membuktikan kesaksiannya dengan 'bukti2 ilmiah' misalnya foto maupun video. Namun terlepas masalah kontroversi 'hilal syar'i vs. hilal falaki' di Saudi ini, hebatnya Saudi adalah Keputusannya rajanya selalu dipatuhi oleh seluruh rakyatnya tanpa terkecuali bahkan tidak sedikit diantara negara-negara Saudi juga mengikuti keputusan ini. (Baca: http://www.icoproject.org/icop/hej31.html dan http://www.moonsighting.com/1431zhj.html ).

Sementara yang terjadi di negri ini justru sebaliknya, nampaknya penentuan awal bulan juga menjadi salah satu aset 'keaneka ragaman' melengkapi keanekaragaman suku, agama, ras, tradisi dan budaya di Indonesia. Kapan kebersamaan di Indonesia bisa seperti di Saudi? Wallahu a’lam. 

 

 

 

 

00:00:00

KOMENTAR


 


SPONSOR

 

The image “http://www.serambi.co.id/themes/3D-Fantasy/images/srmb_top_01.gif” cannot be displayed, because it contains errors.

The Realistic Planetarium Software

Dealer Teleskop Vixen Indonesia

PENGUNJUNG

 

 FOLLOW ME

WEB BROWSER

 

Copyright © 2009 Rukyatul Hilal Indonesia (RHI)   |  Semua tulisan dalam situs ini bebas disunting dengan menyebutkan sumber dan penulisnya. | Admin: Mutoha Arkanuddin