|
ARTIKEL
RASHDUL KIBLAT
2010
Oleh :
Mutoha Arkanuddin
Diposting oleh
:
admin
Pada 23 Mei 2010
Apakah arah
kiblat masjid bisa berubah atau bergeser akibat gempa bumi maupun
bergeraknya lempeng Bumi seperti isu yang tengah berkembang? Jawabannya
tentu TIDAK! Artinya pengukuran sebelumnya memang yang membuat arah
kiblat masjid tersebut tidak tepat. Dan para pakar geologi menegaskan bahwa
kiblat tidak akan bergeser karena gempa maupun pergeseran lempeng Bumi.
Apakah arah kiblat cukup ke BARAT? Sebagaimana yang difatwakan oleh MUI
beberapa waktu yang lalu? Jawabannya tentu TIDAK! Sebab di zaman
sekarang menentukan arah kiblat semudah membalik telapak tangan (saking
mudahnya RED) alias tidak sulit.
"Dan dari mana saja engkau keluar (untuk shalat),
maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka'bah), dan sesungguhnya
perintah berkiblat ke Ka'bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah),
Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan." (QS.
Al-Baqarah : 149)
“Baitullah ( Ka'bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid
Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di
Tanah Haram (Makkah) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi
Timur dan Barat dari umatku” (HR. Al-Baihaqi)
“Jika kamu mendirikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadap
kiblat, lalu takbir, kemudian bacalah apa yang kamu hafal dari qur’an, lalu
ruku’ sampai sempurna, kemudian i’tidal sampai sempurna, kemudian sujud
sampai sempurna, kemudian duduk di antara dua sujud sampai sempurna,
kemudian sujud sampai sempurna, lakukanlah yang demikian itu setiap rekaat.”
(HR. Abu Hurairah)
Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat atau bangunan Ka'bah yang berada
di Masjidil Haram adalah merupakan tuntutan syariah dalam melaksanakan
ibadah tertentu. Berkiblat wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat
dan menguburkan jenazah Muslim. Menghadap kiblat juga merupakan ibadah sunah
ketika tengah azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang
dan sebagainya.
(Theodolit dan GPS
dikenal sebagai pengukur arah kiblat yang presisi, namun demikian
penggunaan peralatan ini tergolong sulit dan mahal biayanya)
Berdasarkan
kebiasaan yang berkembang di masyarakat, terdapat beberapa kaidah yang
sering digunakan untuk mengetahui ketepatan arah kiblat. Diantaranya adalah
menggunakan kompas kiblat, kompas sajadah atau peralatan canggih seperti
pesawat GPS dan theodoliti. Kini, melalui teknologi penginderaan jarah jauh
yang disediakan cuma-cuma oleh Google via internet menggunakan software
Google Earth atau secara online disediakan oleh situs-situs seperti
Qibla Locator atau
RHI Qibla Locator yang memanfaatkan fasilitas Google Map Api (GMA) kita
dengan mudah dapat mengetahui arah kiblat sebuah bangunan masjid secara
visual dan jelas. Namun demikian penggunaan kaidah-kaidah tersebut sering
terkendala beberapa masalah. Kompas belumlah dikatakan sebagai alat ukur
yang presisi. Sebab dalam penggunaannya, kompas sering mengalami kesalahan.
Kesalahan tersebut berupa penyimpangan jarum kompas baik oleh variasi
magnetik secara global maupun atraksi magnetis secara lokal oleh logam di
sekitarnya. Belum lagi skala kompas biasanya terlalu kasar. Sementara,
penggunaan GPS dan theodolit untuk mengukur arah kiblat walaupun bisa
mendapatkan hasil yang lebih presisi namun dalam prakteknya kedua peralatan
tersebut tidak mudah didapatkan karena harganya yang cukup mahal. Walaupun
Google Earth maupun fasilitas qibla locator secara online dapat membantu
mengetahui arah kiblat secara visual dengan perhitungan yang sangat akurat,
namun piranti tersebut bukan merupakan alat ukur yang presisi di lapangan
dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu.
Lantas apakah
bisa mengukur arah kiblat secara presisi dengan biaya yang murah? Jawabannya
adalah BISA! Yaitu dengan menggunakan fenomena astronomis yang
terjadi pada hari yang disebut sebagai yaumul rashdul qiblat atau hari
meluruskan arah kiblat karena saat itu Matahari tepat di atas Ka'bah.
Fenomena yang terjadi 2 kali selama setahun ini dikenal juga dengan istilah
Transit Utama atau Istiwa A'dhom.
(Pada setiap tanggal
28 Mei dan 16 Juli Matahari tepat berada di atas Ka'bah)
Istiwa, dalam
bahasa astronomi adalah transit yaitu fenomena saat posisi Matahari
melintasi di meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan
sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Setiap hari dalam wilayah Zona
Tropis yaitu wilayah sekitar garis Katulistiwa antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚
LS posisi Matahari saat istiwa selalu berubah, terkadang di Utara dan disaat
lain di Selatan sepanjang garis Meridian. Hingga pada saat tertentu sebuah
tempat akan mengalami peristiwa yang disebut Istiwa A'dhom yaitu saat
Matahari berada tepat di atas kepala pengamat di lokasi tersebut.
(Konsepnya sederhana! Saat Matahari di atas
Ka'bah maka semua bayangan benda tegak akan mengarah ke Ka'bah)
Hal ini bisa
difahami sebab akibat gerakan semu Matahari yang disebut sebagai gerak
tahunan Matahari. Ini diakibat selama Bumi beredar mengelilingi Matahari
sumbu Bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun
Matahari terlihat mengalami pergeseran antara 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Pada
saat nilai azimuth Matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis
sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa A'dhom yaitu
melintasnya Matahari melewati zenit lokasi setempat.
Demikian halnya Ka'bah yang berada pada koordinat 21,4° LU dan 39,8° BT
dalam setahun juga akan mengalami 2 kali peristiwa Istiwa A'dhom yaitu
setiap tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 waktu setempat dan 16 Juli sekitar
pukul 12.27 waktu setempat. Jika waktu tersebut dikonversi maka di Indonesia
peristiwanya terjadi pada 28 Mei pukul 16.18 WIB dan 16 Juli pukul 16.27
WIB. Dengan adanya peristiwa Matahari tepat di atas Ka'bah tersebut maka
umat Islam yang berada jauh dan berbeda waktu tidak lebih dari 5 atau 6 jam
dapat menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan
Matahari.
28 MEI 2010 @ 16:18 WIB
16 JULI 2010 @ 16:27 WIB
MATAHARI TEPAT DI ATAS KA'BAH
POSISI MATAHARI = ARAH KIBLAT
BAYANGAN MATAHARI = ARAH KIBLAT
Untuk lebih akurat pengukuran disarankan
menggunakan benang besar yang berbandul daripada sekedar menggunakan
tongkat yang ternyata sulit membuatnya benar-benar tegak. Saya menyebut
untuk alat benang berbandul tersebut dengan istilah Solar Shadow Tracker
(SST) - penjejak bayangan Matahari.
Teknik penentuan
arah kiblat pada hari Rashdul Qiblat sebenarnya sudah dipakai lama sejak
ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan
beberapa negara Islam yang lain juga sudah banyak yang menggunakan teknik
ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan
siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus
dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat
yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya
peristiwa Istiwa A'dhom tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan
kiblat yang benar.
Bahkan dengan menggunakan software khusus yang dapat mengetahui pergerakan
benda langit secara presisi kapan secara persis terjadinya Istiwa A'dham
dapat diketahui. Untuk tahun 2010 ini misalnya menurut software Starrynight
Pro Plus Versi 6.3.8 yaitu sebuah software astronomi yang memiliki tingkat
ketepatan sangat tinggi, peristiwa Istiwa A'dhom terjadi pada 28 Mei 2010
pukul 12:17:59 WS atau 16:17:59 WIB dan 16 Juli 2010 pukul 12:26:48 WS atau
16:26:48 WIB. Namun secara praktis angka tersebut bisa dibulatkan ke menit.
(Tempat
yang memungkinkan penentuan arah kiblat pada 28 Mei dan 16 Juli hanya di
daerah terang saja)
Karena di negara
kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan adalah ke Timur,
maka arah bayangan yang menuju ke tongkat adalah merupakan arah kiblat yang
benar. Jika anda khawatir gagal karena Matahari terhalang oleh mendung maka
toleransi pengukuran dapat dilakukan pada H-2 hingga H+2. Satu hal penting
yang harus kita perhatikan adalah JAM yang kita gunakan hendaknya sudah
terkalibrasi dengan tepat. Untuk mengetahui standard waktu yang tepat bisa
digunakan tanda waktu saat Berita di RRI, layanan telpon 103 atau
menggunakan jam atom yang disediakan oleh layanan internet.
Istiwa
A'dhom di antipode (Nadir) Ka'bah dapat digunakan sebagai acuan
penentuan arah kiblat secara presisi untuk wilayah yang tidak
memungkinkan melakukan penentuan arah kiblat pada 28 Mei dan 16 Juli.
-
Penentuan arah
kiblat menggunakan fenomena ini hanya berlaku untuk tempat-tempat yang
pada saat peristiwa Istiwa A'dhom dapat secara langsung melihat Matahari.
Sementara untuk daerah lain di mana saat itu Matahari sudah terbenam
seperti Wilayah Indonesia Timur (WIT) praktis teknik ini tidak dapat
digunakan. Maka ada fenomena lain yang dapat digunakan oleh daerah-daerah
tersebut sehingga dapat mengetahui arah kiblat secara presisi. Fenomena
itu adalah saat Matahari berada tepat di bawah Ka'bah yaitu saat Istiwa
A'dhom terjadi di titik Nadir (Antipode) Ka'bah yang terjadi pada setiap
tanggal 13 Januari dan 28 November.
Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa A'dhom :
-
Tentukan
lokasi masjid/mushalla/ langgar atau rumah yang akan diluruskan arah
kiblatnya.
-
Sediakan
tongkat lurus panjang minimal 1 meter. Akan lebih bagus jika menggunakan
benang besar yang diberi bandul sehingga tegak benar.
-
Siapkan
jam/arloji yang sudah dicocokkan / dikalibrasi waktunya secara tepat
dengan radio/ televisi/ internet atau telpon ke 103.
-
Tentukan
lokasi pengukuran; di dalam masjid (diutamakan) atau di sisi Selatan
Masjid atau di sisi Utara atau di halaman depan masjid. Yang penting
tempat tersebut datar dan masih mendapatkan penyinaran Matahari saat
peristiwa Istiwa A'dhom berlangsung.
-
Pasang tongkat
secara tegak dengan bantuan lot tukang (jika menggunakan tongkat) atau
pasang benang lengkap dengan bandul serta penyangganya di tempat tersebut.
(Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya fenomena agar tidak
terburu-buru)
-
Tunggu sampai
saat Istiwa A'dhom terjadi dan amatilah bayangan Matahari yang terjadi.
Berilah tanda menggunakan spidol, benang, lakban, penggaris atau alat lain
yang dapat membuat tanda lurus. Maka itulah arah kiblat yang sebenarnya
-
Gunakan
benang, sambungan pada tegel lantai, atau teknik lain yang dapat
meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid. Intinya yang hendak kita
ukur sebenarnya adalah garis shaff yang posisinya tegak lurus (90°)
terhadap arah kiblat. Maka setelah garis arah kiblat kita dapatkan untuk
membuat garis shaff dapat dilakukan dengan mengukur arah sikunya dengan
bantuan benda-benda yang memiliki sudut siku misalnya lembaran triplek
atau kertas karton.
Sebaiknya bukan
hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah
kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita
shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa
tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah
masing-masing. Semoga cuaca cerah.
Semoga dengan lurusnya arah kiblat kita, ibadah
shalat yang kita kerjakan menjadi lebih afdhal dan doanya lebih dikabulkan.
Amin.
Keterangan lengkap hubungi Rukyat Hilal
Indonesia (RHI) di 0274-552630 atau 08122743082.
CATATAN:
Agar lebih akurat yg tanggal 28 Mei, hari sebelumnya dikurangi 3 menit per
hari sesudahnya ditambah 3 menit per hari. Yang 16 Juli hari sebelumnya
ditambah 3 menit per hari sesudahnya dikurangi 3 menit per hari. Masih cukup
presisi. Kalaupun tidak dikoreksi jg masih ckp akurat krn hanya berbeda
0,2drjt setiap hari atau sekitar 10' (menit busur) sementara diameter sumber
cahaya (matahari) jauh lebih besar yaitu sekitar 0,5drjt atau 30'.
Link Terkait:
Qibla Locator
RHI Qibla Locator
Arah Kiblat Qiblati
hubungi markas Rukyat
Hilal Indonesia (RHI) di 0274-552630 atau 08122743082.
|