Islam
sebagai agama Allah SWT sangat menekankan akan pentingnya ilmu
pengetahuan. Hal ini dapat dibaca dari ayat pertama yang turun kepada
Rasulullah SAW yang berbunyi “Iqra’”, banyaknya ayat yang mengisyaratkan
tentang ilmu pengetahuan di alam semesta, pujian dari Allah SWT kepada
orang-orang yang berilmu, hingga banyaknya ilmuwan muslim di setiap
generasi yang turut andil menyumbang peradaban bagi umat manusia.
Salah satu ilmu pengetahuan yang sangat
penting bagi ummat Islam adalah ilmu hisab atau ilmu falak. Ilmu hisab ini
sangat berkaitan dengan ibadah penting yaitu shalat, puasa dan haji.
Dengan ilmu hisab, waktu shalat fardhu dapat ditentukan dengan memahami
pergerakan matahari. Sementara pergerakan matahari itu sendiri telah
ditentukan posisinya. Allah SWT berfirman
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu
yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa:
103)
Penentuan masuknya bulan Ramadhan, Syawal dan
Dzulhijjah sebagai patokan untuk ibadah puasa dan haji dapat diprediksi
dengan memahami pergerakan matahari dan bulan. Selain itu, dengan sedikit
memahami ilmu matematika bola, arah Ka’bah yang menjadi qiblat shalat
dapat pula diketahui dari segala posisi di bumi. Mengingat pentingnya ilmu
hisab, maka ilmu ini sangat perlu dipelajari oleh ummat Islam.
Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari
haasaba – yuhaasibu – muhaasabatan – hisaaban.
Kata hisab berarti perhitungan. Ilmu hisab memang bermakna ilmu untuk
menghitung posisi benda langit (matahari, bulan, planet-planet dan
lain-lain). Yang memiliki akar kata yang sama dengan kata “hisab” adalah
kata “husban” yang berarti perhitungan. Kata “husban” disebutkan dalam Al
Qur’an untuk menyatakan bahwa pergerakan matahari dan bulan itu dapat
dihitung dengan ketelitian sangat tinggi.
“Matahari dan bulan (beredar) menurut
perhitungan.” (Ar-Rahman:5)
Sementara itu kata “falak” berarti garis
edar, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:
“Tidaklah mungkin bagi matahari
mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yaasin:40).
Dalam Al Quran, banyak dijumpai ayat-ayat
yang berhubungan dengan fenomena alam. Setiap hari, matahari terbit di
horizon timur, kemudian perlahan mulai meninggi hingga transit saat Zhuhur
dan akhirnya terbenam di horizon barat. Akibat perubahan ketinggian
matahari, panjang bayangan benda juga berubah-ubah. Fenomena ini diungkap
dalam Surat Al Furqan:45.
“Apakah kamu tidak memperhatikan
(penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan)
bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap
bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas
bayang-bayang itu.”
Ilmu ini memiliki kaitan erat dengan
astronomi. Namun secara umum ilmu hisab hanya mengambil bagian kecil dari
astronomi yaitu mempelajari pergerakan matahari, bulan, bumi serta
planet-planet lain di tata surya (solar system). Dengan mempelajari
ilmu hisab, kita akan dapat menentukan arah qiblat, waktu sholat, serta
posisi matahari dan bulan setiap saat. Selain itu, kalender Islam dapat
pula dihitung, sehingga masuknya bulan-bulan penting dalam Islam seperti
Muharram, Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dapat diperkirakan. Dengan ilmu
hisab, berbagai peristiwa alam yang menakjubkan seperti gerhana matahari,
gerhana bulan, transit Merkurius dan Venus di matahari dapat pula dihitung
dengan akurasi tinggi. Dan masih banyak lagi fenomena yang dapat
ditelusuri melalui ilmu hisab.
Dengan mempelajari ilmu hisab, kita akan
menemui sejumlah pertanyaan, diantaranya:
-
Kemanakah arah kiblat shalat jika kita
berada di tempat seperti rumah kita sendiri, atau bahkan di kutub utara?
-
Bagaimanakah cara menentukan selisih hari
antara 2 tanggal dengan cepat, misalnya antara tanggal 16 Juli 622 M
(yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1 H) dengan tanggal 17
Agustus 1945?
-
Bagaimana menentukan konversi antara
penanggalan Masehi dan Hijriah?
-
Bagaimana cara menentukan waktu shalat di
suatu tempat pada hari tertentu, misalnya di tempat berkoordinat 20 LU
(Lintang Utara) dan 12 BT (Bujur Timur) pada tanggal 20-12-2012?
-
Berapakah ketinggian bulan tepat saat
matahari terbenam pada tanggal 27 Januari 2008 dilihat dari atas Monas
dengan ketinggian sekitar 100 m dari permukaan laut?
-
Benarkah pada tanggal 21 Desember 2008 saat
matahari ada di atas horison, di wilayah yang terletak di sebelah utara
22 derajat lintang utara (seperti Jepang, Eropa, Rusia dll), bayangan
benda selalu lebih panjang daripada tinggi benda?
-
Bagaimana cara menentukan lintasan di
permukaan bumi yang mengalami gerhana matahari total (total solar
eclipse) pada tanggal 22 Juli 2009? Kapankah gerhana tersebut mulai
dan berakhir? Berapakah lama waktu, dan lebar daerah yang terkena
gerhana?
-
Berapakah lama waktu gerhana bulan total (total
lunar eclipse) pada tanggal 21 Desember 2010?
-
Kapankah tepat terjadi bulan baru,
seperempat pertama, bulan purnama dan seperempat akhir bulan pada Maret
2009?
-
Sebagai tambahan, dimanakah posisi seluruh
planet di tata surya dilihat dari Jakarta pada tepat tengah malam
setelah masuk tanggal 1 Ramadhan 1430 H?
Beberapa pertanyaan di atas barangkali dapat
dijawab dengan menggunakan software-software yang bertebaran atau merujuk
pada data di website astronomi. Namun ada beberapa catatan:
-
Software-software itu tentu disusun dengan
rumus-rumus matematika/astronomi. Rumus-rumus itu tentu saja
“tersembunyi” di balik software tersebut. Kita sebagai pengguna, hanya
dapat memberikan input (masukan) dan kemudian keluar outputnya.
Bagaimana prosesnya, dan bagaimana rumus itu sendiri, kita seringkali
tidak mengetahui. Mungkin saja sebagian kita sudah cukup puas dengan
hasil keluarannya. Namun khususnya bagi penulis, adalah penting untuk
mengetahui prosesnya. Bagaimanapun juga, mengetahui rumus dasarnya
adalah penting untuk memahami ilmu hisab ini secara utuh.
-
Rumus-rumus matematika/astronomi yang
terdapat dalam ilmu hisab ini, menurut hemat penulis, bukanlah rumus
yang sulit. Hanya dibutuhkan pengetahuan dasar matematika seperti
aljabar biasa (tambah, kurang, kali, bagi, pangkat, akar), trigonometri
(seperti sinus, cosinus, tangen serta inversinya). Memang beberapa rumus
agak panjang. Bahkan jika kita ingin menentukan penghitungan dengan
akurasi sangat tinggi, terkadang dibutuhkan penjumlahan (serta
perkalian) yang melibatkan ribuan suku. Namun, jangan khawatir, ribuan
suku atau misalnya hanya sepuluh suku, sama saja jika kita mengerti.
-
Penulis berharap agar pembaca dapat
memahami ilmu hisab secara lebih utuh, tidak hanya mengerti secara
populer saja. Karena itu dalam tulisan berseri berikut ini, tidak hanya
pengetahuan populer sajaa, namun detail rumus-rumus dan angka-angkanya
juga diberikan. Untuk memudahkan pembaca, rumus-rumus dan angka-angka
perhitungan disusun dalam bentuk file Microsoft Excel. Format ini
sengaja dipilih, karena mayoritas dianggap sudah familiar. Dalam file
excel tersebut, pembaca tinggal mengisikan tanggal/koordinat atau data
penting lainnya, dan seketika hasilnya dapat diperoleh. Keuntungannya,
rumus-rumus dan angka-angka perhitungan dapat dilihat langsung,
dipelajari dan diverifikasi. Rumus juga dapat dimodifikasi, atau
mengabaikan angka-angka kecil yang tak terlalu signifikan. Tak tertutup
kemungkinan, ada diantara pembaca yang ingin membuat software hisab
dengan memanfaatkan data-data dalam file excel tersebut.
Penulis bermaksud membuat tulisan berseri
tentang ilmu hisab. Harapan kami, tulisan ini dapat memberikan pencerahan
bagi ummat, sehingga mampu berfikir cerdas dalam memahami persoalan
seputar falak. Sebab hingga saat ini, ummat Islam masih disibukkan dengan
perbedaan dalam menentukan kalender Islam. Tak jarang, perbedaan ini
membuahkan kesalahpahaman dan perpecahan. Kita turut prihatin, jika
sebagian ummat Islam belum dewasa berfikir dalam memahami perbedaan,
termasuk dalam soal awal bulan. Menurut hemat kami, hingga saat ini
perbedaan pendapat itu nampaknya masih menjadi sebuah keniscayaan,
sehingga dibutuhkan landasan keilmuan yang mamadai untuk memahaminya.
Disinilah ruang yang disediakan oleh penulis untuk mengisinya. Jika ummat
sama-sama memiliki landasan keilmuan yang kokoh, perbedaan sudut pandang
dan metode itu bukan tidak mungkin untuk didialogkan sehingga mencapai
titik temu. Dengan demikian, energi ummat dapat disalurkan untuk hal-hal
yang jauh lebih bermanfaat.
Dr. RINTO ANUGRAHA
Bekerja sebagai Dosen Fisika UGM
Yogyakarta. Menamatkan program doktoral di Kyushu University, Fukuoka,
Jepang pada bulan September 2008. Saat ini tinggal di Fukuoka melanjutkan
program pascadoktoral di Kyushu University selama 2 tahun sampai dengan
bulan September 2010 dengan sponsor dari JSPS.