KH.
Hasan Basri : GELAR akademis yang sekarang ini dikejar-kejar
banyak orang sekolahan ternyata tidak penting bagi Kiai Hasan Basri Said, salah seorang kiai yang
pada masa hidupnya sangat getol mengamati pergerakan
benda-benda langit; menggeluti disiplin keilmuan paling unik di pesantren,
ilmu falak. Bagi Kiai Hasan Basri, model pendidikan yang berorientasi pada
gelar itu tidak akan memberikan kebanggaan apa-apa.
Ilmu yang berorientasi pada gelar dan kelulusan tidak akan bisa dinikmati
sebagai ilmu itu sendiri karena pastinya tidak akan ada inovasi; tidak ada
penemuan baru. Lihat bagaimana orang sekolahan hanya berputar-putar pada
pakem dan target materi yang sudah baku. Lalu lihat bagaimana para sarjana
yang hanya bersibuk dengan urusan teknis: bagaimana ilmunya bisa
dimanfaatkan untuk mendapatkan penghidupan, mencari dan memperbanyak uang.
Bukankan seharusnya sebuah ilmu itu mandiri dan tidak goyak oleh apapun
jua, apalagi sekedar uang. Biarkan ilmu itu terus berkembang untuk
mencapai suatu peradaban yang setinggi-tingginya.
Dengan bangga Kiai Hasan Basri menunjukkan satu alat teropong bintang yang
diciptakannya sendiri, yang mampu mengukur dan mengamati gerak gerik benda
langit, juga untuk mengukur arah kiblat. Alat itu terbuat dari rangkaian
pipa, termasuk pipa pengintip, dilengkapi dengan penggaris bulat, kompas,
benang dan bandulan kecil.
Jika anda melihat dan coba memakai alat itu pasti kesan bahwa orang
Indonesia, lebih-lebih orang pesantren, banya bisa memakai dan
mengkonsumsi teknologi yang diciptakan oleh Barat itu akan hilang
seketika. Sebenarnya kita bisa mencapai peradaban teknologi tinggi seperti
Barat namun kita atau pemerintah kita enggan mencobanya. Kita hanya senang
mengkonsumsi. Bisa dibayangkan, seharusnya kita tidak butuh waktu lama
untuk merubah alat sederhana buatan Kiai hasan Basri menjadi alat modern
yang terbuat dari bahan yang lebih awet. Namun proses panjang sebuah
keilmuan –dalam hal ini—ilmu falak sehingga mampu menciptakan teropong
bintang itu ternyata sudah terlampaui oleh orang-orang pesantren, paling
tidak oleh Kiai Hasan Basri.
Maka, hal terpenting ketika seorang mengaku telah ”belajar”, kata Kiai
Hasan Basri, adalah bagaimana berperan dalam masyarakat melalui ilmu yang
didapat. Ini yang seharusnya dibanggakan. Jadi orang kemudian tidak
sekedar mentereng hanya gara-gara bergelar tinggi tapi bagaimana ”hasil
belajarnya” dapat berefek kepada dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Apa boleh buat. Saat ini orang belajar hanya untuk mencari gelar. Ilmu itu
sendiri tidak berarti apa-apa. Lebih-lebih disiplin keilmuan yang
dikejar-kejar oleh orang-orang sekolahan hanyalah yang dibutuhkan untuk
kepentingan mencari pekerjaan, bukan ilmu yang penting dikembangkan untuk
mencapai peradaban tinggi. Ilmu falak atau ilmu astronomi misalnya tidak
akan banyak peminat karena tidak menjanjikan pekerjaan yang mentereng,
posisi terhormat, atau uang banyak.
Kiai Hasan Basri Said lahir pada 1935 di sebuah kota kecil di daerah
Gresik, Jawa Timur. Sejak kecil ia belajar di satu madrasah di daerahnya.
Lalu setelah merasa cukup usia ia beranjak ke pesantren Gontor Ponorogo.
Di sana dia berdiam selama 6 tahun. Hasan Basri Muda pernah tiga kali
menempuh pendidikan tinggi namun tidak pernah lebih dari satu semester. Ia
pernah belajar di UII Yogyakarta, lalu ke Kedokteran UNAIR 1 semester, dan
lalu ke kedokteran hewan Universitas Brawijaya Malang 1 semester. ”Saya
nggeri kalau harus praktek dengan membedah babi,” katanya. Baginya belajar
di kampus memang tidak perlu menyita waktu terlalu lama. Setelah merasa
cukup mengenyam dunia kampus, ia merantau ke pulau Kalimantan.
KH. Hasan
Basri Sa'id yang juga pernah menjabat sebagai Anggota
Lajnah Falakiyah PBNU, Penasehat Lajnah
Falakiyah NU Jatim. meninggal dunia pada Senin
Pon, 5 Jumadal Akhiroh 1429 H/ 9 Juni 2008 M.
Semasa hidupnya Kiai Hasan Basri pernah menjadi sukarelawan di satu klinik yang didirikan
organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Gresik. Klinik itu ada
mula-mula sebelum kemudian organisasi Islam Muhammadiyah dan yang lainnya
juga mendidikan layanan kesehatan di sana. Lalu ia pindah menggeluti dunia
koperasi hingga kini. Gaji yang diterimanya dari kantor koperasi lumayan
untuk membiayai tiga orang anaknya yang sukarang sudah beranjak besar.
Namun di tengah aktivitas apapun, satu yang tidak pernah dia lupakan
adalah bahwa dia seorang pecinta ilmu falak.
Dia belajar ilmu falak sejak kecil. Ia pernah belajar kepada Kiai Romli
Hasan, seorang pakar ilmu falak di daerah Gresik. Lalu ke daerah Bangil
menemui Kiai Mu’thi dan belajar ilmu falak kepadanya. Namun setelah
beranjak dewasa semangat untuk menggeluti ilmu falak itu entah kenapa
mengendur. Semangat untuk mendalami ilmu falak itu kembali menggebu-gebu
pada usianya yang ke-33 tahun, setelah mendapat dorongan dari istri
tercinta Marsyadul Ilmi yang 15 tahun lebih muda darinya.
Waktu itu warga daerah setempat membutuhkan seseorang yang bisa mengukur
arah kiblat. Kiai Hasan Basri seakan tidak mau tahu. Istrinya yang tahu
kemampuan suaminya langsung bergumam, ” Ilmu dari Tuhan, kalau Bapak tidak
manfaatkan maka bapak berdosa.” Dorongan istrinya inilah yang membuatnya
bersemangat untuk terus menggeluti ilmu falak. Dia tidak ingin
menyembunyikan ilmu Tuhan. Lagi pula, istrinya selalu memberikan dukungan
agar Kiai Hasan Basri terus mengabdikan dirinya pada ilmu falak. ”Dia rela
saya tinggal satu minggu, karena tahu bukan untuk pribadi saya,” kata Kiai
Hasan Basri. Patokannya, katanya, ilmu itu tidak untuk dijual, jadi bisa
dinikmati dan terus digeluti.
Sumber : http://nu.or.id
