|
TOKOH FALAK
Ulugh Begh
(1392-1449M)
Diposting oleh :
admin
Senin, 23 Maret 2009
Ulugh
Beg : Beliau ialah Mohammad Taragay ibnu Shah Rukh,
cucu kepada Timurlane (1336-1405), panglima Mongol yang amat
terkenal. Ulugh Beg dilahirkan di Soltaniyah,
Iran. Beliau memerintah Empayar Timurid dari tahun 1447 sehingga 1449. Dalam
konflik perebutan kuasa pemerintahan zamannya beliau telah di bunuh
oleh anaknya, Abdul Latif yang kemudian
menggantinya memerintah Empayar Timurid di Samarkand
(Tajikistan).
Sumbangan Ulugh Beg
Ulugh Beg adalah adalah seorang pemerintah, guru, saintis dan ahli
astronomi. Pada zaman pemerintahannya beliau telah membina sebuah pusat
pengajian ilmu di Samarkand dan menjemput ramai
sarjana khasnya di bidang astronomi dan matematik agar belajar
dan mengajar di sana. Beliau juga telah membina sebuah balai cerap
yang diberi nama Zurkhani Zij. Balai cerap ini
menggunakan sebuah sextant gergasi untuk menentukan kedudukan objek-objek
samawi. Sextant itu diberi nama Sextant Fakhri. Dengan tanpa bantuan alatan
moden seperti teleskop, Ulugh Beg telah berjaya mengenalpasti dan membina
zij (jadual) menerangkan tentang kedudukan 1012 butir bintang secara tepat.
Beliau juga mencatit kaedah-kaedah dan teori sfera geometri dan
trigonometri. Hasil kerja beliau ditulis dalam bahasa Arab kemudian
diterjemahkan kepada bahasa Parsi dan Latin dan menjadi rujukan sehingga ke
Eropah.
Mirza Ulugh
Begh: Sultan, Astronom, dan Ahli Matematika
TAHUN 1908, di bawah reruntuhan kota kuno Afrasiyab, Samarkand, Vladimir
Viyatkin, seorang arkeolog asal Rusia, terkesima menatap sebuah bentuk
bangunan aneh menjulang di hadapannya. Dari hasil penggaliannya itu,
akhirnya ia dapat mengenali bangunan itu sebagai sextant atau kuadran
berukuran raksasa. Arkeolog amatir itu akhirnya sadar bahwa ia sedang berada
di sebuah observatorium peninggalan abad ke-15.
Puing-puing sisa observatorium Islam paling awal ini, adalah salah satu
bukti kecintaan seorang raja pada ilmu pengetahuan khususnya ilmu astronomi.
Observatorium luar biasa ini dibangun pada tahun 1420 oleh seorang penguasa
Timurid bernama Ulugh Begh.
Ulugh Begh, yang berarti ”Penguasa Agung”, pada masanya selain dikenal
sebagai raja atau sultan penebar kasih dan perdamaian di Asia Tengah, ia pun
menguasai ilmu astronomi dan matematika. Salah satu hasil karyanya yang
brilian adalah ilmu trigonometri dan geometri bentuk bola.
Lahir di Sultaniyeh, Persia (kini Iran) pada tahun 1394, dengan nama Mirza
Mohammad Taregh bin Shahrukh. Dia adalah cucu dari Amir Timur atau yang
lebih dikenal sebagai Timur Leng, sang penakluk dan pendiri kekaisaran
Timurid di Asia Tengah. Mirza Ulugh Begh adalah anak tertua dari Shah Rukh,
mereka berasal dari suku Mongol Barlas dari Transoxiana (kini Uzbekistan).
Sedangkan ibunya seorang bangsawan Goharshad dari Persia.
Semasa anak-anak, Mirza mengembara ke tempat-tempat penting di Timur Tengah
dan India bersama kakeknya, Amir Timur, ketika memperluas kekuasaannya di
wilayah tersebut. Sepeninggal kakeknya, Mirza kecil menetap di Samarkand
yang pada waktu itu menjadi ibukota kerajaan Timurid.
Pada usia 16 tahun, Mirza Mohammad sudah menjadi gubernur di Samarkand
(1409). Bahkan pada tahun 1411 ia menjadi penguasa penuh seluruh Mavarannahr
(kini Uzbekistan, Tajikistan, dan sebagian Kazakhstan).
Sang penguasa berusia remaja ini berhasil mengubah kota Samarkand, menjadi
sebuah pusat intelektual bagi kerajaan. Pada 1417-1420 ia pun membangun
madrasah (universitas) yang hingga kini masih berdiri megah di Registan
Square, Samarkand, Uzbekistan. Kala itu madrasah ini ramai dikunjungi para
astronom dan matematikawan Islam untuk belajar. Salah seorang hasil didikan
Ulugh Begh adalah Ghiyath al-Kashi, seorang ahli matematika terkemuka.
Selain matematika, astronomi adalah ilmu yang paling menarik minat sang
sultan, dan kecintaannya dibuktikan pada tahun 1420, dengan mendirikan
sebuah observatorium kolosal, yang ia namai Gurkhani Zij, sebuah
observatorium mirip Uraniborg buatan Tycho Brahe. Gurkhani berbentuk busur
seperempat lingkaran (kuadran) berukuran raksasa yang melengkung dari ruang
bawah tanah hingga menonjol di permukaan tanah.
Walaupun observatorium itu tidak dilengkapi dengan teleskop, instrumennya
mampu meningkatkan keakuratan dalam pengoperasiannya. Kuadran atau sextant
raksasa ini memiliki jari-jari sekitar 36 m, sementara tingginya dari dasar
mencapai 40 m. Berkat observatorium inilah pada 1437 Ulugh Begh berhasil
menyusun katalog bintang ”Zij-i Sultani” yang memuat sebanyak 994 bintang,
serta mengoreksi berbagai kesalahan yang yang ada pada katalog bintang
sebelumnya.
Ulugh Begh pun mampu menentukan lamanya tahun sideris (rotasi bumi terhadap
bintang-bintang) yaitu sebesar 365,2570370... hari = 365 hari 6 jam 10 menit
8 detik. Nilai ini kemudian diperbaiki 28 detik pada tahun 1525 oleh
Nicolaus Copernicus.
Dalam bidang matematika, Ulugh Begh berhasil menyusun secara akurat tabel
trigonometri untuk nilai sinus dan tangen dengan ketepatan hingga 8 tempat
desimal.
Namun, semangat dan keberanian Ulugh Begh menguasai sains tidaklah sepadan
dengan kepiawaiannya dalam pemerintahan seperti halnya Timur Leng kakeknya
atau Jengis Khan moyangnya, tentara Ulugh Begh mengalami banyak kekalahan
dalam berbagai pertempuran melawan musuh-musuhnya. Bahkan raja pecinta ilmu
pengetahuan itu pun harus mengakhiri hidupnya di tangan anaknya sendiri,
Abdul Latif, ketika dalam perjalanan menuju Mekah. Observatorium
kebanggaannya pun ikut dihancurkan, kecuali bagian yang berada di bawah
tanah, sampai akhirnya ditemukan oleh arkeolog amatir yang juga seorang guru
sekolah dasar pada 1908.
Nama Ulugh Begh kemudian direhabilitasi oleh saudaranya, Babur, seorang
pendiri kerajaan Mogul di India, dan menempatkan sisa jasadnya di Makam
Timur, Samarkand.
Untuk menghormati pencapaian sang sultan dalam astronomi, pada 1830 sebuah
kawah di Bulan dinamai ìUlugh Beighî oleh astronom Jerman Johann Heinrich
von Madler pada peta Bulan buatannya.
Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Ulugh_Beg
|