|
VISIBILITAS
Awal Bulan Zulhijjah 1430 Hijriyah
Diposting oleh
:
admin
Pada 11
November 2009

Rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan
Zulhijjah 1430 Hijriyah akan
dilaksanakan pada Selasa sore (17/11)
bertepatan dengan 29 Zulqaidah 1430 H. Data rukyat
untuk Yogyakarta:
Matahari terbenam pada pukul 17:38 WIB pada azimuth 250°37' -
Tinggi Bulan saat Matahari terbenam 5°25'
di atas ufuk Hakiki pada azimuth 246°01' atau di
sebelah kiri-atas posisi Matahari. Bulan terbenam
pada 18:07 WIB pada azimuth 245°14'.
Walaupun rukyat menggunakan mata telanjang adalah
mustahil pada kondisi seperti ini, namun dalam kondisi
cuaca yang cerah dan didukung oleh peralatan bantu penglihatan (teleskop/binokuler)
maka masih ada peluang hilal dapat dirukyat.
RHI Yogyakarta
merencanakan akan melakukan rukyatul hilal bersama Tim BHR DIY pada
Selasa, 17 November
2009 di beberapa lokasi rukyat di DIY. Antara lain POB Bela-belu
Parangkusumo Yogyakarta, POB Bukit Brambang Pathuk Gunungkidul dan POB
Pantai Trisik Kulonprogo. Kesemua lokasi akan dilengkapi peralatan rukyat
yang cukup standard. Bahkan di lokasi rukyat utama di POB Bela-belu akan
dipasang teleskop yang canggih yang dapat mencari dan mengikuti
gerakan Bulan secara otomatis yaitu Teleskop VIXEN dengan hand controlnya
yang dinamakan Starbook.
Konjungsi
(Ijtimak) Awal Bulan
Terjadi pada
:
Selasa, 17 November
2009
@
02:16 WIB - 03:16 WITA -
04:16
WIT
atau
Senin,
16 November
2009
@ 19:16
UT
Visibilitas (kenampakan) Hilal
pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia
khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah
ini. Peta
visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar
6°
yaitu syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan
mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software
Accurate Times
yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

KETERANGAN :
-
Sangat tidak mungkin daerah yang berada di
bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu
bulan
terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric
conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.
-
Daerah yang berada pada area
BIRU TUA (tak berarsiran) juga tidak memiliki peluang
menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong)
sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram
bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.
-
Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik
seperti teleskop maupun binokuler pada area di bawah
arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih
sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di
langit Barat.
-
Wilayah yang berada
dalam arsiran UNGU hanya dapat
menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung
dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian
pengamatan.
-
Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran
HIJAU
baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik
dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.
-
Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60°
Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.
Peta Ketinggian Hilal di
Wilayah Indonesia
Tanggal Rukyatul Hilal :
Selasa, 17 November
2009 @ sunset (
Kriteria MABIMS/Danjon )

Diagram
ketinggian di atas hanya berlaku untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Sedangkan untuk wilayah lain memungkinkan terjadi perbedaan terhadap posisi dan
ketinggian Bulan saat Matahari terbenam.
Prediksi Awal Bulan
Menurut Berbagai
Kriteria
1. Menurut Kriteria Rukyat
Hilal ( Limit Danjon )
Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas
di atas, kalau Kriteria Limit Danjon diberlakukan maka di
wilayah Indonesia ada peluang dapat menyaksikan hilal
walaupun harus menggunakan alat bantu teleskop maupun binokuler serta pada
kondisi cuaca yang bagus. Sementara rukyat menggunakan mata telanjang adalah
mustahil pada kondisi hilal seperti ini. Dan sangat besar kemungkinan akan ada
laporan rukyat dari lokasi-lokasi yang bahkan hanya menggunakan mata telanjang.
Namun demikian, walaupun hal ini mustahil laporan tersebut akan dijadikan
acuan penetapan awal bulan pada sidang isbat yang digelar di Jakarta dan
menetapkan awal bulan jatuh pada :
Rabu, 18 November 2009
2. Menurut Kriteria Imkanur
Rukyat
Pemerintah
RI melalui pertemuan Menteri-menteri
Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria
yang disebut Imkanur
Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender
Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :
Hilal dianggap
terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya
apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
(1)· Ketika
Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas
horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak
lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
(3)· Ketika
Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.
Menurut Peta Ketinggian Hilal di
atas pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS
sudah terpenuhi. Dengan demikian awal bulan jatuh pada :
Rabu, 18 November 2009
3. Menurut Kriteria Wujudul
Hilal
Kriteria
Wujudul
Hilal
dalam penentuan awal bulan Hijriyah
menyatakan
bahwa
: "Jika
setelah terjadi ijtimak,
bulan terbenam setelah terbenamnya
matahari
maka malam itu
ditetapkan
sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat
matahari terbenam". Berdasarkan
posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia
maka syarat wujudul hilal sudah
terpenuhi.
Maka awal bulan ditetapkan jatuh pada :
Rabu, 18 November 2009
4. Menurut Kriteria Kalender
Hijriyah Global
Universal
Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite
Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan
hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender
universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut
Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan
Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap
mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).
Pada hari pertama
ijtimak zone Barat maupun zone Timur sudah masuk dalam kriteria Limit Danjon.
Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :
Zona Timur :
Rabu, 18 November
2009
Zona Barat
:
Rabu, 18
November 2009
5. Menurut Kriteria Rukyat
Hilal Saudi
Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi
ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya
kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "Hilal" baik yang "sengaja
salah" maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh
seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit
visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi
kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi".
Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Qura" yang telah
berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk
kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat
hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa
terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan
tersebut apakah sudah sesuai dengan
kaidah-kaidah sains astronomi modern yang
diketahui memiliki
tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Diagram
ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.
Menurut
Kalender Ummul Qura' :
Kalender ini digunakan Saudi bagi
kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah "Telah terjadi
ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore
itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya
sudah
memenuhi syarat. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :
Rabu, 18 November 2009
Menurut
Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :
Rukyatul hilal digunakan Saudi
khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya
sederhana "Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi
yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk
menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran
laporan tersebut".
Kemungkinan hilal
bisa dirukyat
di Saudi pada hari pertama ijtimak.
Dengan demikian sangat besar
peluang ada yang mengaku berhasil melihat hilal sehingga awal bulan akan jatuh
pada :
Rabu, 18 November 2009
Ada kemungkinan
juga
tidak ada laporan rukyat, sehingga awal
bulan akan jatuh pada:
Kamis, 19 November 2009.
6. Kriteria Awal Bulan Negara-negara
Lain
Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama
Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia,
Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan
awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan "Kriteria Imkanurrukyat MABIMS"
yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°.
Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata
penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh
mempertahankan rukyat bil fi'li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab
atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah
yang resmi digunakan di beberapa negara :
-
Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat/Qadi serta pengkajian ulang
terhadap hasil rukyat.
Antara lain masih diakukan oleh negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko
dan Trinidad.
-
Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan
diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh
Saudi
Arabia pada kalender Ummul Qura namun
khusus untuk Ramadhan,
Syawwal dan
Zulhijjah menggunakan pedoman
rukyat.
-
Mengikuti Saudi Arabia misalnya
negara :
Qatar, Kuwait,
Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina,
Libanon dan Sudan.
-
Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari
terbenam dan terjadi setelah ijtimak digunakan oleh Mesir.
-
Menunggu berita dari negeri tetangga
--> diadopsi oleh
Selandia Baru mengikuti Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
-
Mengikuti negara Muslim yang
pertama kali berhasil rukyat --> Kepulauan Karibia
-
Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan
atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari -->
diadopsi oleh Algeria, Tuki dan Tunisia.
-
Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak
sebelum fajar diadopsi oleh negara Libya.
-
Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di
Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah
--> diadopsi oleh komunitas
muslim di Amerika Utara dan Eropa
-
Nigeria dan beberapa
negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke
tahun
-
Menggunakan Rukyat :
Namibia,
Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
-
Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah serta
beberapa jamaah lainnya masih menggunakan hisab urfi.
Laporan Kegiatan Rukyat Hilal
Indonesia
Tanggal Rukyatul Hilal :
Selasa, 17 November
2009 @ sunset (
Kriteria MABIMS/Danjon )

DOWNLOAD LAPORAN
RUKYATUL HILAL
Laporan Kegiatan Rukyat Hilal Internasional

Original Site :
http://icoproject.org by Mohd. Odeh - Jordania

Original Site :
http://moonsighting.com by Dr. Monzur Ahmed

Original Site :
http://www.hilalsighting.org/
by Dr. Salman Shaikh
[ Ke Atas
]

|